abuabbad.com

Home » Belajar Agama

Category Archives: Belajar Agama

Kuliah Shubuh: Iblis Dulunya Pemimpin Malaikat

547777_3693800618920_687553570_nMendapat ilmu baru merupakan hal yang sangat luar biasa dirasakan. Seperti shubuh ini alhamdulillah saya bisa mengikuti kuliah shubuh bersama para jama’ah dari KH. Zaenul Arifin (Syuriah PCNU Kota Bekasi) di masjid Baitul Husna Harapan Indah Kota Bekasi. Sengaja saya bermalam di rumah orang tua di Harapan Indah karena malamnya ada jadwal memberikan kultum tarawih di Harapan Indah. Tausiyahnya singkat jelas dan padat, benar-benar berbasis keilmuan yang mendalam. Pak kyai hanya menjelaskan ayat yang sudah populer setiap Ramadhan yakni ayat tentang perintah puasa di surat Al-Baqarah ayat 183. Dengan kata kunci bahwa ayat ini hanya panggilan untuk orang beriman (yaa ayyuhal ladziina aamanu), diperintahkan puasa dengan kata “kutiba ‘alaikum” dan tujuannya “la’allakum tattaquun” yang dalam terjemah versi kemenag adalah mudah-mudahan kamu bertaqwa. (more…)

Berkah Sahur Di Bulan Ramadhan*

images (3)Marhaban Yaa Ramadhan, bulan penuh rahmah, maghfiroh dan keutamaan. Banyak fadhilah yang Allah berikan di bulan suci yang kita rindukan ini. Bulan Ramadhan disebut juga “sayyidus syuhuur” (penghulu dari bulan-bulan yang lain). Ada pula disebut bulan pendidikan (syahrut tarbiyah) dimana pada bulan Ramadhan jiwa-raga, mental-fisik, jasmani-rohani kita dididik, dilatih agar kuat hingga pada kulminasinya yaitu taqwa. Secara fisik badan kita kuat menahan lapar sampai maghrib dan secara rohani mental kita kuat menahan godaan-godaan yang dapat merusak (nilai) pahala ibadah puasa. Karena sejatinya puasa bukan sekedar perkara menahan lapar dan haus saja, melainkan menahan segala unsur kemanusiaan kita dari hal-hal yang buruk.

Salah satu amalan yang menunjukkan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan tarbiyah yaitu disunnahkannya makan sahur. Hal ini menunjukkan bahwa puasa bukan kegiatan tanpa persiapan. Untuk itu sebabnya di beberapa daerah banyak melaksanakan tradisi menyambut bulan Ramadhan atau dikenal dengan istilah tarhib Ramadhan. Layaknya orang bersekolah kita butuh persiapan untuk menempuh pendidikan di sekolah. Begitupun Ramadhan, saat akan tiba hendaknya kita bersiap-siap menyambutnya dengan segala persiapan. Bahkan Nabi Muhammad menyebutkan bahwa orang yang bergembira menyambut datangnya bulan Ramadhan maka diharamkan jasadnya di atas api neraka. (more…)

Kata Romadhon Mengandung Arti Keistimewaan

Salah satu motivasi terbesar dalam hidup adalah ketika kita merasakan nilai lebih dari suatu perbuatan yang kita lakukan. Seperti dalam konteks pekerjaan, bila kita mengerjakan suatu pekerjaan dan mendapatkan bonus tambahan dari atasan atau bos tentu akan meningkatkan semangat atau motivasi kita dalam bekerja. Dalam konteks ibadah Ilahiyah, bonus pahala pun Allah berikan kepada para hamba-Nya yang taat, yang senantiasa menjalankan perintah-Nya dengan ikhlas serta mengharap ridho Allah. Salah satu contohnya adalah diberikannya keistimewaan dalam bulan Ramadhan kepada hamba-Nya yang menjalankan berbagai ibadah di bulan yang mulia ini, sayyidus syuhuur (penghulu diantara bulan-bulan yang lain). (more…)

Bisakah Metode Hisab Dan Ru’yah Disatukan?

Kamis malam sekitar ba’da maghrib saat saya melihat sidang itsbat awal Ramadhan 1433 H di televisi (meski hanya sekedar ingin mengetahui pendapat-pendapat yang beredar) tiba-tiba Hp saya terdengar berdering (sepertinya nada SMS). Karena masih ingin mengetahui pendapat-pendapat para peserta sidang itsbat maka Hp pun tidak langsung saya raih. Selesai melihat sidang itsbat barulah saya membuka SMS yang barusan masuk. Ternyata dari seorang rekan yang menanyakan kapan saya akan mulai puasa, redaksi lengkanya begini: “Aslmkm. Ustadz ente shoum jum’at atw sabtu ??” (more…)

Soal Uji Kompetensi PAI Kelas IV SDIT Mentari Indonesia


SK: Membiasakan perilaku terpuji
KD: Meneladani perilaku taubatnya Nabi Adam ‘alaihis salam

Jawablah Pertanyaan di bawah ini!

1. Apa yang anda ketahui tentang tobat?jelaskan asal kata tobat dan pengertiannya!
2. Mengapa Nabi Adam ‘alaihis salam bertobat?
3. Sebutkan syarat-syarat bertobat!
4. Mengapa manusia harus bertobat?
5. Bagaimana bunyi doa Nabi Adam ‘alaihis salam saat bertobat?

MENGENAL THAHARAH

Thaharah (Bersuci)

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang
yang mensucikan diri.”
(QS. Al-Baqoroh [2]: 222)

Secara bahasa, Thaharah berarti bersuci. Sedangkan menurut istilah, berarti membersihkan diri dari hadats dan najis pada pakaian, badan, dan tempat.
1. Najis dan Hadats
a. Najis, adalah suatu benda kotor yang menyebabkan seseorang tidak suci.
• Najis Mukhoffafah (ringan), seperti air kencing bayi laki-laki yang berusia kurang dari 2 tahun dan belum makan apa-apa selain ASI. Cara mensucikannya najisnya cukup dengan memerciki air pada tempat yang terkena najis.
• Najis Mutawasithoh (sedang), seperti: tinja/kotoran manusia/hewan, darah, nanah, bangkai. Cara mensucikannya yaitu dibasuh/dicuci dengan air sampai hilang wujud, bau, warna, maupun rasanya.
• Najis Mugholazah (berat), seperti air liur, kotoran anjing dan babi yang mengenai badan, pakaian, atau tempat. Cara mensucikannya yaitu dicuci sampai tujuh kali dengan air dan salah satu di antaranya dicampur dengan tanah/debu yang suci.

b. Hadats, adalah suatu kondisi di mana seseorang dalam keadaan tidak suci menurut ketentuan syara’.
• Hadats Kecil, yaitu keadaan tidak suci menurut ketentuan syara disebabkan keluarnya sesuatu (selain sperma, darah haid, dan nifas) dari qubul (kemaluan) dan dubur (anus) seperti: setelah buang angina, buang air kecil atau besar. Juga, apabila hilang akal, dan tidur nyenyak. Cara mensucikannya dengan wudlu/tayammum.
• Hadats Besar, yaitu keadaan tidak suci menurut ketentuan syara disebabkan keluarnya sperma, darah haid, dan nifas. Cara mensucikannya yaitu dengan mandi wajib/tayammum.

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Maa’idah [5]: 6)

2. Wudlu dan Tayammum
a. Wudlu, adalah membasuh anggota badan tertentu dengan menggunakan air disertai niat untuk menghilangkan hadats kecil apabila hendak melaksanakan ibadah shalat.
Kaifiyyat/tata cara berwudlu: (1) Berniat lillahi ta’ala; (2) Mencuci kedua telapak tangan sambil membaca basmallah; (3) Kumur-kumur; (4) Istimsyaq dan istimtsar (membersihkan rongga hidung); (5) Membasuh muka; (6) Membasuh kedua tangan sampai siku; (7) Mengusap kepala; (8) Membasuh kedua telinga; (9) Membasuh kedua kaki sampai mata kaki; (10) Berdo’a.
b. Tayammum, adalah menyapukan/mengusapkan debu atau tanah ke wajah dan kedua tangan sebagai pengganti wudlu atau mandi besar/wajib sebelum shalat.
Kaifiyyat/tata cara tayammum: (1) Berniat lillahi ta’ala; (2) Meletakkan kedua tangan di tempat yang berdebu sambil membaca basmallah; (3) Menyapu wajah dengan debu; (4) Menyapu kedua tangan sampai siku; (5) Berdo’a.

3. Mandi Wajib
Yaitu mandi yang dilakukan apabila seseorang dalam keadaan berhadats besar.
Kaifiyyat/tata caranya: (1) Berniat lillahi ta’ala; (2) Mencuci kedua telapak tangan sambil membaca basmallah; (3) Mencuci kemaluan dengan tangan kiri; (4) Berwudlu; (5) Menyela-nyela jemari tangan dan menuangkan air ke atas kepala sebanyak 3 kali; (6) Meratakan air ke seluruh tubuh/mandi; (7) Membasuh kedua kaki; (8) Berdo’a.