بِقَدْرِ الْكَدِّ تُكْتَسَبُ الْمَعَالِى

Beranda » Perjalanan » Dedi Dwitagama: Jangan Jadi Guru Yang Biasa Aja!

Dedi Dwitagama: Jangan Jadi Guru Yang Biasa Aja!

Menulislah dan rasakan berkahnya

bhayusulis.guru-indonesia.net

Blog GeSchool

Buku Bukan Guru Biasa|Penulis: Imas Kurniasih , S.Pd.I

Buku Bukan Guru Biasa|Penulis: Imas Kurniasih , S.Pd.I

Sebelum saya nulis intisari dari judul di atas, saya mau ucapin terima kasih dulu buat pak Dedi Dwitagama yang lebih sering dan akrab saya panggil bang Dedi atau mister. Saya berterima kasih karena kemarin sudah nebeng di mobilnya dalam perjalanan pulang dari kampus UHAMKA Ciracas Jakarta Timur setelah kami sama-sama menghadiri acara Gender Awadrs Pusat Studi Gender & Perlindungan Anak (PSGPA) Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA). Awalnya saya berangkat ke UHAMKA nebeng dengan Omjay dari SMP Labschool Rawamangun. Agar Omjay bisa langsung pulang via tol Jatibening ba’da maghrib maka saya bareng bang Dedi yang searah karena rumahnya di kawasan Jakarta Timur.

Saya dan Omjay awalnya tidak tahu kalau ada teman yang menominasikan kami untuk masuk nominator Gender Awards. Gambaran kegiatannya pun tentu kami tidak tahu. Setelah menelepon Omjay akhirnya kita berangkat meskipun sebetulnya Omjay ada jadwal kuliah S3-nya di UNJ. Tapi karena penasaran dan ingin tahu apa itu Gender Awards maka dia pun milih izin dari perkuliahannya. Apa itu gender awadrs akan saya tulis di postingan berikutnya.

Briefing Nominator Gender Awards

Briefing Nominator Gender Awards

***

Sampai di UHAMKA ternyata saya juga bertemu bu Mugi dan bang Dedi di ruang utama yaitu ruang sidang A lantai 1. Saya dan Omjay mengira awalnya bang Dedi hadir sebagai fasilitator karena beliau memang sudah dikenal sebagai trainer dan motivator nasional (silahkan cek blog www.trainerkita.wordpress.com). Tetapi ternyata beliau juga jadi peserta untuk kategori guru, sedangkan saya di kategori kepala sekolah dan ada juga kategori dosen. Di akhir penutupan hari pertama itu bang Dedi pun dipersilahkan memberikan sepatah dua patah kata dari panitia. Seperti biasanya setiap saya jumpa di beberapa kesempatan bersama bang Dedi pesan yang selalu menjadi stressing point-nya yaitu: Jangan Jadi Guru Yang Biasa Aja!. Lanjut bang Dedi, kebanyakan orang menjadi biasa aja karena mereka melakukan hal yang sama aja berulang kali. Bahkan ada yang melakukan kesalahan yang sama. Bang Dedi mencontohkan dirinya yang selalu mencari kegiatan yang di luar kebiasaan guru pada umumnya. Karenanya, kegiatan yang tidak “biasa-biasa aja” itu bisa mengantarkannya menjadi trainer nasional dan merasakan keliling nusantara gratis.

“kalo lo mau sukses ya jangan jadi orang yang biasa-biasa aja, kudu berani beda, beda yang positif”.

(H. Muhtadi Muntaha, Lc, MM)

Dengan inti pesan yang sama, saya pun teringat seorang guru yang sekarang sudah menjadi anggota dewan DPRD Kab. Bekasi. Saat bersilaturahmi ke rumah guru saya itu dia berpesan dengan dialek Bekasi: “kalo lo mau sukses ya jangan jadi orang yang biasa-biasa aja, kudu berani beda, beda yang positif”. Tidak sedikit kita lihat guru yang hanya menjalankan kewajibannya mengajar ala kadarnya saja sehingga menjadi biasa saja. Tidak peduli dengan peningkatan kompetensi, bersosialisasi, berorganisasi, melatih kompetensinya di bidang pendidikan padahal sudah dapat tunjangan sertifikasi yang di dalam presentasi dananya diperuntukkan kepada peningkatapan kompetensi guru. Tunjangan-tunjangan dan dana-dana lainnya justeru melalaikannya dari usahanya meningkatkan kompetensi. Tapi tidak sedikit juga guru yang mau jadi luar biasa dengan mengikuti kegiatan-kegiatan peningkatan kompetensi bahkan melanjutkan studi S2 atau S3 karena menyadari bahwa dibalik uang sertifikasi tersimpan tanggungjawab peningkatan kompetensi sebagai pemilik profesi guru. Usahanya dalam mendidik melampaui guru-guru lainnya yang dalam istilah penulis Ahmad Fuadi dalam novelnya Negeri 5 Menara yaitu going the extra miles.

Dedi Dwitagama menyampaikan statement

Dedi Dwitagama menyampaikan statement

Dalam perjalanan pulang dari UHAMKA menuju Labschool Rawamangun saya dan bang Dedi pun melanjutkan perbincangan seputar guru biasa dan luar biasa. Dia menceritakan pengalaman panjang perjalanannya di dunia pendidikan, pelatihan serta kiprahnya baik pada tingkat kedinasan provinsi DKI Jakarta ataupun pada tingkat nasional dan forum internasional. Bang Dedi yang juga sebagai instruktur Badan Narkotika Nasional (BNN) mengisahkan bagaimana usaha kita untuk selalu menjadi guru yang luar biasa dengan terlibat dalam berbagai kesempatan meraih prestasi, sharing dan menancapkan jaringan (networking) dengan berbagai guru dari berbagai daerah, terus meng-upgrade kemampuan teknologi dan jangan lupa bersyukur serta berderma kepada siapapun yang layak kita beri dalam bentuk apapun. Maka itu, dalam beberapa kesempatan saya dan teman-teman mengadakan pelatihan untuk guru-guru tak jarang bang Dedi itu kita beri akomodasinya 2 M (Makasih Mas) alias free. Padahal kalau melihat jam terbangnya mungkin bisa jutaan rupiah. Itulah bang Dedi, beliau selalu siap menginfakkan ilmu dan waktunya kalau untuk guru-guru yang luar biasa semangat untuk terus belajar.

Perjalanan demi perjalanan dikisahkannya dengan penuh hikmah sampai akhirnya bang Dedi meraih prestasi sebagai guru berprestasi dan kepala sekolah berprestasi tingkat provinsi DKI Jakarta, meraih beasiswa S2 di ITS dari Kemendikbud, meraih penghargaan Guraru Award dari Acer, dan lain-lain. Bahkan dua adiknya yang saya kenal juga di media sosial sebagai guru luar biasa juga tak lepas dari peran bang Dedi sebagai kakak. Ada pak Dudi Maryadji guru seni di SMPIT Al-Fatih yang jago ngelukis dan mas Agus Sampurno yang terkenal dengan akun @gurukreatif. Bisa dikatakan keluarga bang Dedi merupakan keluarga pendidik yang luar biasa.

Banyak ilmu yang saya dapat dari bang Dedi yang bisa dibilang gurunya guru luar biasa. Pernah beberapa tahun lalu saya mendapatkan kesempatan berharga dari bang Dedi untuk menggantikannya memberikan motivasi pelajar sukses di salah satu SMA swasta di Bekasi karena jadwal bang Dedi yang padat dan bentrok di tempat lain. Alhamdulillah berbekal sharing dan pengalaman dari bang Dedi saya pun bisa menggantikannya dan mendapatkan apresiasi yang cukup luar biasa dari peserta.

Saling Repost & Regram di Instagram. ON-OFF sharing.

Saling Repost & Regram di Instagram. ON-OFF sharing.

***

Tak terasa roda mobil bang Dedi sudah berputar di perempatan by pass Rawamangun. Itu artinya sudah hampir sampai di Labschool untuk kemudian saya melanjutkan perjalanan pulang ke rumah dengan motor yang saya titipkan di Labschool. Sesampai di depan Labschool saya pun langsung pamit dan tak lupa berterima kasih atas kesempatan sharing panjangnya. Kami pun saling titip salam buat nyonya dan keluarga, mendoakan kesuksesan, dan berharap bisa terus berjumpa di lain kesempatan.


3 Komentar

  1. Dedi Dwitagama mengatakan:

    aaaaah, hebat kali Pak Ustadz ini …. perjalanan yg sebntar itu jadi reportase yang menarik, mhn izizn reblog ya Pak … teruslah menjadi yang tak biasa, smg dlm sehat slalu ya Pak

  2. Dedi Dwitagama mengatakan:

    Reblogged this on and commented:
    aaaaah, hebat kali Pak Ustadz ini …. perjalanan yg sebntar itu jadi reportase yang menarik, mhn izizn reblog ya Pak … teruslah menjadi yang tak biasa, smg dlm sehat slalu ya Pak, trm ksh

  3. Bhayu Sulistiawan mengatakan:

    siap grakkk.. sama2 mister.. Good luck together..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: