بِقَدْرِ الْكَدِّ تُكْتَسَبُ الْمَعَالِى

Beranda » Sosok » Memori Berinteraksi Dengan Pak Muhsin; Dakwah, Menulis, Mengajar

Memori Berinteraksi Dengan Pak Muhsin; Dakwah, Menulis, Mengajar

Menulislah dan rasakan berkahnya

bhayusulis.guru-indonesia.net

Blog GeSchool

Adalah pak Muhsin, lengkapnya Drs. Muhsin Hariyanto, M.Ag. salah satu dosen yang banyak kesan berinteraksi dengan beliau selama kurun waktu 4 tahun saya hidup di Jogja. Alhamdulillah setelah 5 tahun sejak lulus kuliah S1 tidak berjumpa akhirnya bisa berjumpa lagi di acara Temu Alumni FAI UMY sekaligus mendapatkan motivasi, ilmu, dan pencerahan lagi dari beliau. Saat mendengar penuturan mas Ananto (ketua panitia Temu Alumni FAI UMY) dalam sambutannya bahwa yang banyak di-request oleh alumni adalah kehadiran pak Muhsin nampaknya memang sudah bisa ditebak. Pak Muhsin yang notabene dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memang sosok yang selalu dirindukan bagi para mahasiswanya bahkan yang sudah alumni juga. Saya pun mencoba memutar kembali memori saya ketika kuliah. Masih seperti dulu, pak Muhsin dengan senyum khasnya selalu lebih dulu menyapa, bertanya kabar, menyemangati, penuh hikmah selalu menghiasi perjumpaan kami. Plus tak berubah pula konsistensinya menggunakan kopiah (peci hitam) kemanapun melangkah. Untuk urusan kopiah dulu saya sempat meragukan “sibghoh” muhammadiyah beliau. Maklum dulu pertama kuliah dan baru lulus dari pesantren saya termasuk orang yang melihat segala sesuatu dengan simbol (keagamaan). Ketika melihat simbol pak Muhsin dengan kopiahnya (yang identik dengan kostum NU) saya mengira beliau orang NU meski aktif di Muhammadiyah.

Sampai akhirnya saya menemukan statement Gus Dur bahwa suatu saat nanti kita akan melihat orang NU yang mirip Muhammadiyah dan sebaliknya orang Muhammadiyah yang mirip NU (dalam konteks simbol dan tradisi keagamaan),

Sejak itu saya tidak lagi melihat simbol-simbol keagamaan dalam kostum apalagi menghabiskan tenaga untuk berdebat tentang diferensiasi NU-Muhammadiyah yang sampai saat ini masih banyak dilakukan aktifis-aktifis Islam musiman. Kenapa musiman? Ya karena biasanya ramainya perdebatan itu kalau jelang Ramadhan dan Lebaran. Dulu saya pernah berkelakar kepada pak Muhsin, “kalau pak Muhsin itu wong NU mesti udah dipanggil kyai loh pak…”. hee….

Sikap tawadhu’ yang dikombinasikan dengan keramahan pak Muhsin selalu menghiasi dalam diskusi saya dengan beliau sejak dulu baik di dalam kelas perkuliahan maupun di luar kelas. Apalagi kalau sudah mendiskusikan tema tasawuf dan fiqih kontemporer sesuai mata kuliah yang beliau ampu di jurusan PAI (Pendidikan Agama Islam). Dalam interaksi lain tak jarang saya sering naik bus kampus bareng beliau sambil diskusi di dalam bus. Naik bus kampus??? Ya, dulu awal-awal semester kuliah tahun 2004-an saya termasuk pengguna bus kampus UMY yang disediakan dari Wirobrajan ke kampus terpadu di Ring Road Gamping mengingat saya pertama tinggal di kawasan Wirobrajan dan belum memiliki kendaraan pribadi (motor/sepeda). Dosen yang sering naik bus kampus itu ya pak Muhsin. Bahkan tak jarang dalam keadaan bus yang penuh sesak apalagi kalau di pagi hari banyak yang tak kebagian tempat duduk beliau pun nampak santai dan terbiasa berada diantara kerumunan mahasiswa yang berdiri di dalam bus kampus karena tak kebagian bangku. Ada lagi yang lebih mengesankan. Di Jogja itu kalau sudah sore menjelang maghrib kita akan kesulitan menggunakan kendaraan umum (bus jalur). Nah, seringkali saya pulang kuliah terlalu sore lewat jam 5 karena mata kuliah bahasa inggris yang diadakan di Pusat Bahasa (PB) UMY di jam akhir (sore). Bus kampus terakhir sampai jam 5 kurang sudah kosong di halte kampus. Untuk kasus ini saya harus terburu-buru berlari dari lantai atas gedung PB menuju halte kampus untuk mengejar bus kampus tapi hasilnya seringkali kosong (ketinggalan bus).

Pak Muhsin diantara para alumni

Pak Muhsin diantara para alumni

Kalau ketinggalan bus kampus ya sudah saya putuskan berjalan kaki sampai ke pertigaan lampu merah Gamping untuk selanjutnya menunggu bus jalur 15 ke arah Wirobrajan yang masih melintas, kecuali kalau dapat tumpangan teman yang mengendarai motor biasanya saya nebeng sampai Gamping. Jarak dari kampus terpadu menuju Gamping bisa dikatakan lumayan jauh. Suatu sore saya ketinggalan bus kampus dan tak dapat tumpangan teman saya pun berjalan kaki menuju Gamping. Dengan langkah yang cepat saya melihat di depan ada pak Muhsin juga sedang berjalan kaki. Jadilah saya berjalan bersama menuju Gamping sambil ngobrol ngalor ngidul. Pengalaman yang mengesankan dengan dosen yang low profile. Sempat beberapa teman bertanya, “opo pak Muhsin kuwi ra nduwe motor po..?” (apakah pak Muhsin itu gak punya motor?). Untuk sekelas dosen tetap yang termasuk founding fathers FAI dan pernah juga menjabat dekan tak mungkin kalau tak punya, bahkan pantasnya mobil pun punya, begitu menurut saya. Tapi itulah pak Muhsin yang bagi saya sudah sampai pada tingkatan zuhud juga. Tak terpengaruh benda-benda (materi) keduniawiaan. Seperti saat temu alumni waktu lalu setelah menyampaikan pengajian (mau’izhoh hasanah) beliau pun langsung pamit menuju kampus. Terlihat pak Muhsin berjalan kaki menuju kampus dari Unires (Wisma) UMY tempat acara temu alumni.

Dalam hal dakwah pak Muhsin yang aktif menulis juga merupakan figur yang konsisten berjalan di atas jalur dakwah. Banyak ide-ide beliau yang tertuang dalam koridor dakwah di kampus hingga salah satunya beliau aktif terlibat di asrama mahasiswa pun dakwah tetap aktivitas utamanya. Dari keberkahan dakwah beliau lah banyak alumni yang merasakan manfaatnya. Banyak yang sudah berada pada kategori sukses dalam pekerjaan atau profesi. Namun pesan beliau tetap bernuansa dakwah sebagaimana tema pengajian yang beliau angkat pada temu alumni ini tentang komitmen ber-Islam dan berdakwah dalam lintas profesi (intisari pengajiannya ada di tulisan berjudul Meneguhkan Komitmen Ber-Islam dan Berdakwah, disana). Perkembangan teknologi saat ini pun tak pelak menjadi sarana dakwah beliau. Di facebook beliau pun menuangkan tulisan-tulisan luar biasa seputar keislaman, dakwah serta motivasi hidup Islami. Saya termasuk pembaca setia tulisan/postingan pak Muhsin di facebook yang beliau sebut “jama’ah fesbukiyah”. Rupanya banyak juga alumni yang termasuk jama’ah beliau di fesbukiyah. Tak lupa beliau menyapa para jama’ah fesbukiyah termasuk saya (yang dipanggil mas Bhayu) saat menyampaikan pengajian. Terima kasih atas segala ilmu, hikmah, pengalaman serta tauladan yang pak Muhsin berikan. Doakan kami para murid-muridmu agar konsisten dalam hal kebaikan, sukses dunia akhirat.

Kami pun pasti senantiasa mendoakan pak Muhsin agar sehat selalu, diberkahi Allah dan semakin manfaat ilmunya. Cepat selesai juga program doktornya ya pak… kemarin dapat bocoran dari pak Rektor UMY katanya masih belum selesai S3 pak Muhsin… hee… however, bagi saya kualitas keilmuan pak Muhsin sudah cukup setara dengan profesor malahan. Semoga bisa berjumpa lagi pak.. mohon maaf kalau ada yang tak berkenan di tulisan sederhana saya ini.

مع النجاح و السلامة

….بالله في سبيل الحق, فاستبقواالخيرات


1 Komentar

  1. […] motivasi yang tak kalah penting disampaikan oleh pak Muhsin (sosok tentang pak Muhsin saya tulis disana). Pak Muhsin yang didaulat oleh ketua panitia (mas Ananto) untuk memberikan pengajian langsung […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: