abuabbad.com

Home » Hikmah » Memaknai Mudik Dalam Konteks Kehambaan

Memaknai Mudik Dalam Konteks Kehambaan

Menulislah dan rasakan berkahnya

bhayusulis.guru-indonesia.net

Bersama anis Baswedan, Ph.D (Rektor Universitas Paramadina Jakarta)

Blog GeSchool

Mudik bagi rakyat Indonesia sudah seperti ritual yang harus dijalankan setiap kali lebaran atau hari raya Idul Fitri. Tak peduli tua-muda, miskin-kaya, jauh-dekat. Ketika menjelang idul fitri maka arus mudik langsung terpantau dari berbagai sudut media. Ada yang menggunakan kendaraan umum semisal bus, kereta, pesawat dan juga ada yang memilih menggunakan kendaraan pribadi. Bila ditabulasikan tujuan dari setiap pemudik hanya satu yaitu kembali ke daerah asal untuk menjenguk orang tua atau silaturahim. Mudik menjadi momen berbahagia sekaligus berbagi kebahagiaan kepada sanak saudara, kari kerabat dan tetangga di kampung halaman yang dalam rentang waktu cukup lama mereka berpisah secara fisik karena merantau dalam rangka bekerja dan lain sebagainya. Oleh karenanya tak jarang bagi para pemudik menyiapkan perbekalan yang cukup banyak untuk keluarga di kampung halaman tercinta. Sebab setelah lama tak jumpa ingin memberikan oleh-oleh dari hasil yang didapatnya selama bekerja di perantauan.

Bila kita resapi makna mudik secara transendental (hablum minallah) sejatinya mengingatkan kita akan eksistensi sebagai manusia yang notabene makhluk Tuhan. Orang yang melakukan mudik umumnya mempunyai tempat atau daerah asal. Dalam perjalanannya si pemudik menetap sementara di suatu daerah lain yang rata-rata di kota besar dalam rangka pekerjaan kemudian kembali ke daerah asal dengan segala perbekalan yang sudah disiapkan. Begitulah perjalanan kita juga dalam skala dan status kita sebagai hamba Allah.

Kita berasal dari-Nya. Dialah Yang Maha Menghidupkan. Setelah kita terlahir ke dunia saat itulah kita menjalankan pekerjaan kita, amal-amal kita di dunia yang sementara ini dengan segala bekal. Maka bekal yang paling baik adalah TAQWA sebagaimana cita-cita dari puasa di bulan ramadhan. Watazawwaduu fa inna khoiroz zaadittaqwa (berbekallah kalian, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa). Ketika kita mudik dalam arti haqiqi nanti kembali kepada sang Khaliq bekal taqwa itulah yang kita bawa dan mampu menyelamatkan dalam perjalanan mudik di alam kubur. Sebab hanya kepada-Nyalah kita mudik (read: kembali). Innaa lillaahi wa inna ilaihi rooji’uun, dan akhiratlah rumah kita kelak yang kekal yang menjadi tempat pegakhiran dari segala awal kehidupan (wa lal aakhirotu khoirul laka minal uulaa). Semoga kita mampu berbekal diri dengan ketaqwaan yang akan menemani kita kelak saat mudik ke akhirat.

image

ilustrasi: perjalanan mudik di dalam kubur

Advertisements

4 Comments

  1. Guru Muda says:

    Makna mudik seperti ini jarang dipahami. Benarlah adanya, sejatinya kita saat ini sedang mudik hanya singgah belaka di dunia.
    Memanfaatkan waktu mudik itulah yang harus kita kedepankan.
    ***
    mantap pisan abu tulisannya
    😀

  2. Rizqi Ilhami says:

    Great reminder bang, mngkin perbedaannya adlh kl mudik ke kampung halaman sdh ter-planning, when n where we will be back, dr beli tiket, persiapan prjalanan dsb, nah yg ribet ini mudik k akhirat bang,,, where nya tau,,when nya ini yg kita g tau…hehehe

    Mudah2an Allah selalu memudahkan kita dalam melakukan persiapannya y bang, bekal,tiket dsb, jd kalau tiba2 disuruh mudik kita udah siap… Hehe

    overall keren tulisannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: