بِقَدْرِ الْكَدِّ تُكْتَسَبُ الْمَعَالِى

Beranda » Edukasiana » Digital Education: “Using ICT to learn” not “Learning to use ICT”

Digital Education: “Using ICT to learn” not “Learning to use ICT”

Menulislah dan rasakan berkahnya

bhayusulis.guru-indonesia.net

Blog GeSchool

Perkembangan dunia pendidikan sangat berkembang pesat di era digital seperti sekarang ini. Informasi seputar pembelajaran seakan tak ada batas untuk mengakses. Metode mengajar pun mau tidak mau harus mengalami transformasi ke arah metode yang baru, dari metode konvensional ke metode ICT (Information and Communications Technology). Namun pertanyaannya, Teachers, are you ready?. Pertanyaan tersebut disampaikan oleh salah seorang Honorary Member of International Junior Science Olympiad yang juga peneliti senior di LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Prof. Dr. Masno Ginting pada awal presentasinya di Seminar Digital Education yang diselenggarakan oleh Pesona Edukasi (PesonaEdu).

PesonaEdu yang bergerak di bidang pengembangan software media belajar khususnya bidang science (MIPA) kembali mengajak para guru untuk memanfaatkan media belajar digital dalam seminar yang diadakan di gedung PesonaEdu Menteng Jakarta Pusat pada tanggal 05/06/2013. Dalam seminar kali ini PesonaEdu meluncurkan kembali media belajar digital, namun kali ini bukan berbasis laptop atau komputer melainkan berbasis tablet android. Dimana buku digital dan media digital lainnya bisa dijalankan di tablet yang beraplikasikan android. Dengan adanya media ini maka guru dimudahkan untuk menyusun, merencanakan, sampai mengevaluasi pembelajaran. Bagi anak didik pun dengan menggunakan tablet yang sudah memuat semua buku dan media belajar lainnya meringankan mereka dari membawa buku-buku teks yang bermacam-macam dan tentunya dengan beban yang cukup berat.

Prof. Dr. Masno Ginting menyampaikan presentasi

Prof. Dr. Masno Ginting menyampaikan presentasi

Pembicara pertama pada seminar ini Prof. Dr. Masno Ginting yang selalu tersenyum dan bersahaja menyampaikan beberapa point penting bagi guru untuk bisa memanfaatkan media belajar digital sehingga kegiatan pembelajaran akan menyenangkan bagi murid. Prof. Masno menyampaikan Teaching Standards di era digital guru harus focuses on skill, content knowledge and expertise. Konten inilah yang kemudian harus dikembangkan oleh guru melalui bahan digital. Dalam membuat soal misalkan, tidak lagi dalam bentuk yang abstrak dan tidak masuk akal, engages students with the real world data, tools, and experts they will encounter. Guru pun harus memiliki kemampuan dan keahlian dalam mengajar karena students learn best when actively engaged in solving meaningful problems.

Profesor yang banyak membimbing pelajar Indonesia ke jenjang olimpiade sains international ini kemudian menyampaikan 8 karakter guru (8 Characters for Teachers) dalam mengajar di era digital ini.

  1. Adaptor, Teacher must be able to adapt the curriculum and its requirements to teach using digital tools. 
  2. Visionary, Teacher is a visionary. A visionary teacher can look at other people’s ideas and approaches and see how they would use these in his or her classes.
  3. Collaborator, Teacher is able to leverage  all available collaborative tools to enhance and captivate learners.
  4. Risk Taker, Teacher takes risks and is prepared to tap into students’ knowledge of technology.
  5. Learner, The teacher is a learner too.  Endless Learner.
  6. Communicator, Teacher must be a communicator, fluent in tools and technologies that enable communication and collaboration. Teacher must also know how to facilitate communication, stimulate and control it, moderate and manage it
  7. Model, Teachers model the behaviors they expect from students. There is an expectation that teachers will teach the value of learning. In fact teachers must model that value. For some students, teachers are the most consistent educational element in their lives. They make a huge difference by modeling learning.
  8. Leader, Teacher play many roles. They must have vision, skills, incentives, the resources and an action plan to educate successfully.

Fontyone nd DK8361 (800x600)

Pembicara kedua yaitu sekjen Ikatan Guru Indonesia (IGI) Pusat bapak Mohammad Ihsan yang sudah tidak asing lagi bagi para anggota IGI seperti saya. Di awal presentasinya pak Ihsan menyampaikan beberapa data yang cukup mencengangkan bagi kita. Diantaranya sejak 2004 (tepatnya 14 Desember 2004) bapak presiden SBY mendeklarasikan guru sebagai bidang pekerjaan profesi dan pada 15 Desember 2005 disahkanlah UU No.14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen yang salah satu butir pasalnya menyebutkan bahwa “Guru adalah pendidik profesional….”. setelah UU guru disahkan wakil menteri pada waktu itu Prof. Fasli Jalal mengatakan “Terdapat hampir separo dari sekitar 2,6 juta guru di Indonesia tidak layak mengajar. Kualifikasi dan kompetensinya tidak mencukupi untuk mengajar di sekolah”. Data-data tahun selanjutnya pun menunjukkan hasil yang tidak jauh beda. Tahun 2009 hasil kajian implementasi sertifikasi guru dalam jabatan yang sangat dielu-elukan para guru ternyata juga menunjukkan hasil yang lebih banyak tidak meningkat, baik pada kemampuan pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial. Survey pun menunjukkan bahwa sebagian besar uang sertifikasi guru digunakan bukan untuk meningkatkan profesi (kompetensi) guru dan media pembelajaran melainkan untuk kebutuhan sehari-hari (25%), pendidikan anak (38%).

Pak Ihsan pun kemudian menyampaikan bahwa alternatif peningkatan kompetensi guru adalah melalui media belajar yang interaktif. Hal ini dikarenakan realitas sekarang dimana dunia kian mengglobal dan terjadi ledakan pertumbuhan di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Maka guru jangan resisten melainkan harus mengantisipasinya dengan eksploratif-adaptif. Di berbagai negara seperti Amerika sudah mengganti buku pelajaran dengan tablet, bahkan India saja meluncurkan tablet murah untuk siswa yang kalau dikurs-kan rupiah harganya 190.000. Pemerintah pun sudah mencanangkan di kurikulum 2013 bahwa TIK menjadi media semua mata pelajaran. Maka guru harus siap menggunakan TIK sebagai media pembelajaran. Pemanfaatan teknologi dalam bentuk konten multimedia memungkinkan bahan ajar dikembangkan secara lebih menarik, karena ke dalamnya bisa dimasukkan gambar, animasi, suara, video, tidak sekedar tulisan dan ucapan guru. Sudah saatnya kita sebagai guru “Using ICT to learn” Bukan lagi “Learning to use ICT”.

Beberapa manfaat dari pemanfaatan ICT diantaranya: bagi peserta didik kemampuan belajar meningkat dan waktu belajar yang fleksibel. Bagi guru banyak waktu dan biaya yang dihemat untuk pengembangan. Bagi sekolah skalabilitas tinggi namun biaya murah dan bagi orang tua dengan mudah mendampingi siswa belajar di rumah, bahan sudah siap tak perlu sulit membuat sendiri. Secara fenomena anak indonesia masa kini sudah sangat familiar dengan ICT, sudah seharusnya gurunya juga mengoptimalkan pemanfaatan ICT untuk pembelajaran agar bisa menarik perhatian siswa di kelas.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: