بِقَدْرِ الْكَدِّ تُكْتَسَبُ الْمَعَالِى

Beranda » Edukasiana » Obrolan Hangat Bersama Kadisdik Kota Bekasi

Obrolan Hangat Bersama Kadisdik Kota Bekasi

Menulislah dan rasakan berkahnya

bhayusulis.guru-indonesia.net

Blog GeSchool

Minggu pagi (27-01-2013) saya sudah menyibukkan diri dengan handphone. Bukan untuk sibuk dengan internetan dan sebagainya seperti biasa, melainkan menyibukkan diri untuk kontak-kontakan dengan (ajudan) Walikota Bekasi. Sehubungan dengan adanya kegiatan IGI Bekasi (Ikatan Guru Indonesia) yang mengadakan seminar “Pendidikan Karakter Dengan Metode Sentra” di ruang rapat Pemkot Bekasi bersama Yudhistira ANM Massardi dan Siska Massardi (pendiri dan kepala sekolah Batutis Al-‘Ilmi Kota Bekasi). Acara seminar ini akan dibuka oleh Walikota Bekasi sekaligus memberikan sambutan. Untuk hal mengundang walikota lebih sering saya yang menjadi mediator karena secara emosional dan kultural punya kedekatan sejak Bang Pepen sapaan akrab Dr.H. Rahmat Effendi, M.Si masih menjabat ketua DPRD Kota Bekasi dan saya mengundangnya datang ke Jogjakarta bertemu dan berdiskusi dengan teman-teman mahasiswa Bekasi di Jogja.

Dari Kiri ke Kanan: Dahli Ahmad, M.Pd (Ketum IGI Bekasi), Yudhistira Massardi,Siska Massardi, Abdul Munif (pengurus IGI Bekasi), Bhayu Sulistiawan (panitia)

Dari Kiri ke Kanan: Dahli Ahmad, M.Pd (Ketum IGI Bekasi), Yudhistira Massardi,Siska Massardi, Abdul Munif (pengurus IGI Bekasi), Bhayu Sulistiawan (panitia)

Namun karena timing terlalu singkat saya pun baru bisa mengirimkan suratnya melalui staf di ruang walikota pada H-5. Sebetulnya bisa saja saya potong kompas langsung SMS ke pak Wali. Tapi saya tidak ingin menyalahi prosedur birokrasi karenanya tetap surat permohonan saya kirimkan melalui stafnya di Pemkot Bekasi. Dalam hal ini, banyak orang yang tak mengerti dan selalu memaksakan pejabat untuk hadir ketika mengundang. Padahal kita pasti tahu yang namanya pejabat mana pun pasti setiap harinya banyak undangan menghadiri acara, bisa jadi pas kita mengundang tidak sempat hadir atau suratnya terlalu mepet untuk diagendakan. Maka jangan kesal dahulu, lebih baik berbaik sangka. Begitu juga saya waktu itu mencoba memahami. Sejak H-2 acara saya sudah SMS-an dengan staf walikota perihal jadwal tersebut dan menurut info sudah diagendakan, kabar itu pun saya teruskan ke pak Yudhis selaku narasumber seminar dan disambut doa agar pak Wali bisa hadir tidak ada halangan.

Pas hari H saya menelpon staf walikota namun tidak aktif (mungkin sedang ada acara) kemudian saya beralih menelpon salah seorang dari ajudan walikota yang masih tersimpan nomornya di Hp saya, tapi sama tidak aktif juga. SMS saya kirimkan ke staf dan ajudan, setelah menunggu beberapa lama juga tidak ada konfirmasi. Akhirnya kami putuskan untuk memulai acara dan berkoordinasi dengan panitia bahwa pak Wali kemungkinan tidak hadir. Seminar pun dimulai oleh panitia dan pak Yudhis memberikan materi pertama dengan tema pentingnya metode sentra. Di tengah acara saya sempat terpikir untuk langsung kirim SMS ke pak Wali; “Aslmkm.. Bang hari ini ada undangan membuka acara seminar IGI Bekasi di Ruang rapat pemkot Bekasi. Sdh diagendakan? Saya sudah kirim suratnya lewat mba Ajeng (nama staf kantor Walikota)”, ketik saya di kotak pesan. Saya terbiasa menyapanya dengan sebutan Bang / Abang dari pertama bertemu sampai sekarang jadi walikota, dan alhamdulillah beliau tidak keberatan malah senang biar lebih akrab. Teman-teman mahasiswa di Jogja juga banyak yang menyapanya dengan sapaan bang Pepen.

SMS ke pak Wali itu pun tak ada balasan. Saya lanjut di ruang seminar dengan memperhatikan paparan narasumber sambil sesekali blusukan buat jeprat-jepret dengan Canon EOS 1000 D-nya bu Betti (ketua panitia). Tak lama kemudian panitia seksi konsumsi yang di-mayoritasi oleh ibu-ibu meminta bantuan saya mencari tempat makan dan membeli untuk makan siang panitia. Saya pun langsung tancap gas ke warung masakan padang yang ada di belakang komplek Pemkot langganan saya dulu waktu sering berkunjung ke Pemkot. Setibanya saya kembali ke ruang seminar dengan puluhan bungkus nasi padang saya diberitahu oleh panitia bahwa Pak Encu (Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi) hadir dan sudah duduk di dalam. Dalam hati saya langsung berkata, ooo… ternyata pak Wali merespon SMS saya dengan mengirimkan langsung utusan (perwakilan) meski tidak membalas SMS saya (mungkin karena tidak sempat). Saya pun langsung menghampiri pak Kadisdik, Dr. H. Encu Hermana, MM di dalam untuk berjabat tangan menyampaikan salam dan terima kasih. Dalam sambutannya pak Encu menyampaikan pesan mewakili walikota dan memberikan dukungan kepada IGI Bekasi atas kiprahnya serta beberapa pesan dan saran untuk ke depannya.

Kadisdik Kota Bekasi, Drs. H. Encu Hermana, MM, saat memberikan sambutan

Kadisdik Kota Bekasi, Drs. H. Encu Hermana, MM, saat memberikan sambutan

Setelah sambutan selesai pak Encu pun langsung pamit karena harus menghadiri acara di Pondok Gede. Saya yang mendampingi sampai loby kantor Walikota saat menuju mobil memanfaatkan untuk berdiskusi (ngobrol lepas non formal) seputar masalah pendidikan di Kota Bekasi. Dari mulai kesiapan menyambut kurikulum 2013, tunjangan guru, sertifikasi, sampai yang paling lama bahasannya adalah kelanjutan nasib eks. RSBI di Kota Bekasi. “Kami menaruh harapan besar kepada Dinas Pendidikan untuk bisa melahirkan kualitas pendidikan Kota Bekasi yang unggul meski tak menggunakan label RSBI/SBI”, ujar saya kepada pria yang memulai karirnya dari guru olahraga ini. Beliau pun menyampaikan terima kasih dan supportnya untuk sama-sama membenahi pendidikan Kota Bekasi, next time kita bicara lagi lebih intens (sharing) dengan IGI Bekasi, ucapnya menutup perbincangan. Wah, dapat sambutan hangat langsung dari pak Kadisdik cukup mengesankan dalam obrolan kami. Oya, beliau juga membeli buku “Pendidikan Karakter Dengan Metode Sentra” yang ditulis oleh pak Yudhis dan isterinya, Bu Siska Massardi sebanyak 10 buku. Namun bukan untuk dirinya melainkan untuk dibagikan kepada peserta sebagai doorprice. Kontan peserta pun semua gembira menyambut donasi dari pak Encu ini. Maklum bukunya tersebut harganya cukup mahal untuk ukuran guru, yaitu 300.000 satu buku.

Obrolan hangat dengan pak Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi

Obrolan hangat dengan pak Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi

Keesokan harinya, Senin (28-01-2013) pagi sekitar jam 05.30 SMS masuk di Hp saya. Setelah saya buka ternyata dari pak Wali yang mengabarkan bahwa kemarin tidak sempat hadir. Benarkan, pasti agendanya banyak sehingga tak sempat hadir. Bayangkan, hari minggu saja masih harus keliling menghadiri banyak undangan dari masyarakat. Saya pun membalasnya dengan ucapan terima kasih karena sudah mensupport dan mendelegasikan Kepala Dinas Pendidikan, serta menginfokan rencana kegiatan jelang 2 tahun IGI Bekasi.

Salam Guru Blogger,

Abu Abbad


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: