abuabbad.com

Home » Edukasiana » Guru: Pilih Rabun dan Lumpuh atau Melek dan Lari?

Guru: Pilih Rabun dan Lumpuh atau Melek dan Lari?

Menulislah dan rasakan berkahnya

bhayusulis.guru-indonesia.net

Bersama anis Baswedan, Ph.D (Rektor Universitas Paramadina Jakarta)

Blog GeSchool

Rabun dan lumpuh merupakan gejala pada organ tubuh yang mengakibatkan terbatasnya manusia dalam melakukan kegiatan. Terlebih gejala tersebut bisa saja menghalangi manusia untuk mencapai tujuan. Keduanya mengindikasikan adanya hambatan dan kendala untuk memperoleh hasil. Rabun tentu terhambat dalam hal penglihatan secara fisik, lumpuh juga menghambat melakukan sesuatu secara fisik pula.

Secara lahiriyah (fisically) manusia butuh kemampuan menangkap setiap keadaan dan informasi yang mendukung kualitas dirinya. Rabun dan lumpuh bisa diartikan secara bathiniyah (mental). Dalam hal menyerap informasi dan menyampaikan informasi rabun dan lumpuh seringkali menghinggap pada aktivitas membaca dan menulis. Bagi semua profesi, membaca dan menulis hampir ditemukan dalam rangka menunjang kewajiban menjalankan tugas. Bagi karyawan mereka harus membaca standar operasional dan menuliskan laporan misalkan. Tak terkecuali bagi guru, profesi ini justeru sangat membutuhkan kompetensi membaca dan menulis. Bisa dikatakan fardhu ‘ain hukumnya. Bagaimana tidak, guru harus selalu up to date setiap informasi dalam rangka menunjang bahan ajar dan juga harus menuliskan berbagai bahan ajar serta administrasi pembelajaran sebagai agregasi dari tupoksi (tuga pokok dan fungsi) guru.

Korelasi antara membaca dan menulis sebetulnya sangat erat. Jika kita berbicara ilmu saja maka kita tak akan terlepas dari aktivitas membaca dan menulis, karena profesi guru tidak terlepas dari kerangka ilmu pengetahuan. Bahkan salah satu tips agar ilmu tidak cepat hilang dari Ali bin Abi Thalib dalam kata hikmahnya adalah dengan cara menuliskannya. Kita memperoleh ilmu, wawasan, pengetahuan, informasi dengan membaca. Kemudian mengikatnya dengan pena (tulisan).

Dalam konteks keislaman, agama yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW ini pun memerintahkan ummatnya yang paling utama adalah membaca (iqra). Bahkan Qatadah dalam Tafsir Al-Qurthubi (2000) mengatakan: “Menulis adalah nikmat termahal yang diberikan oleh Allah, ia juga sebagai perantara untuk memahami sesuatu. Tanpanya, agama tidak akan berdiri, kehidupan menjadi tidak terarah…”. Maka kita akan jumpai banyak sekali karya-karya ulama yang menjadi referensi banyak kalangan sampai saat ini yang tentunya dimulai dari kegemaran ulama-ulama terdahulu dalam hal membaca.

Ada adagium yang mengatakan bahwa masyarakat Indonesia umumnya masih sangat kuat tradisi berbicaranya. Dalam bahasa sindirannya, “orang Indonesia jago ngomong”, tapi jarang sekali jago nulis. Lihat saja dari mulai akademisi sampai pejabat, mereka mahir ketika beretorika tapi jarang sekali bahkan sulit kita menemukan tulisannya di berbagai media. Guru yang mahir stand up speaking alias ceramah di kelas sebagai metode pembelajaran banyak sekali, namun sedikit yang bisa menyampaikan bahan ajarnya melalui tulisan. Maka tak heran ketika beberapa waktu belakangan ini sering kita dapati berita tentang LKS (Lembar Kerja Siswa) atau buku teks yang materinya tidak akurat untuk menunjang pembelajaran.

Hal itu tidak akan terjadi kalau guru mampu menghadirkan LKS atau buku ajar sendiri (minimal modul) sehingga tidak akan ada kejadian seperti pemberitaan tersebut. Nah, inilah yang kemudia rabun membaca dan lumpuh menulis bisa dikaitkan. Karena terbatasnya (rabun) guru dalam membaca segala bahan dan informasi pembelajaran, maka menjadi lumpuh pula aktivitas guru dalam menulis. Padahal sebagian masyarakat meletakkan titik tolak kemajuan bangsanya melalui kuatnya budaya membaca dan menulis. Kalau gurunya saja sudah rabun membaca dan lumpuh menulis, bagimana dengan peserta didiknya.

membuka dunia dengan membaca dan menulis

Mengapa guru berkepentingan untuk melakukan dan mewarisi tradisi membaca dan menulis?. Jawabannya tak lain adalah karena guru peletak pertama dasar-dasar kemahiran membaca dan menulis. Bahkan dari tingkat TK pun kita sudah kenal istilah membaca-menulis-berhitung (calistung). Dasar kemahiran inilah yang kemudian terus dilanjutkan hingga tingkat perguruan tinggi. Jika guru tidak mampu membiasakan diri untuk membaca maka sudah bisa dipastikan juga tidak terbiasa menulis.

Manfaat lain dari guru menulis adalah mampu menghadirkan informasi dan sumber pembelajaran secara mandiri. Bisa dikatakan hal tersebut adalah manfaat manifes dalam kegiatan menulis. Adapun manfaat latennya adalah guru mampu berbagi bukan hanya kepada satu objek saja melainkan banyak individu dan khalayak yang juga memperoleh ilmu dan informasi yang sangat bermanfaat. Bahkan tak jarang pula guru yang aktif menulis mendapatkan income yang cukup lumayan. Itulah bukti dari manfaat menulis, sebagaimana Wijaya Kusumah, M.Pd, seorang guru SMP Labschool Rawamangun yang juga mengelola blog pendidikan di www.wijayalabs.com membuat statementnya menjadi sebuah buku yang berjudul “Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi”, seperti sugesti yang terus menggelayuti setiap hari untuk terus menulis dan berbagi.

Pada zaman era teknologi sekarang ini, menulis bukan lagi monopoli sebagian profesi saja, seperti cerpenis, kolumnis, jurnalis, dan sebagainya. Menulis juga menjadi bagian dari trend era cyber generation (C-Generation). Kita pun tidak perlu meributkan hal tekhnis untuk membaca dan menulis. Ribuan bahkan jutaan referensi membaca tersedia dalam internet, dan sarana atau media menulis pun disediakan pula oleh berbagai fasilitas internet. Maka sudah sepatutnyalah guru harus gemar membaca, rajin menulis dan melek internet.

para guru semangat menulis pada pelatihan guru menulis

Salah satu caranya adalah dengan ngeblog. Blogging merupakan sarana yang komprehensif untuk guru melatih kompetensi menulis. Karena dari ngeblog, guru bisa meningkatkan fluktuasi membacanya melalui kunjungan blog guru se-Indonesia (blog walking) serta langsung menuliskannya di blog pribadi maupun blog komunitas (organisasi) dalam rangka menunjang kompetensi. Sebut saja guraru.org salah satu blog yang mengkhususkan untuk komunitas profesi guru (atau istilah blogernya yaitu blog “keroyokan”).

Kehadiran guraru.org tak bisa dipungkiri sangat bermanfaat bagi para guru untuk terus mengasah kemahirannya dalam menulis. Hanya dengan membuka blog guraru.org kita bisa melakukan tiga aktivitas sekaligus. Kita membaca tulisan-tulisan para guru-guru se-Indonesia yang bermanfaat sebagai referensi penunjang kompetensi guru, kemudian menuliskan sesuatu untuk sharing kepada guru-guru, dan yang pastinya guru sudah menuju ke arah melek internet. Semoga dengan adanya tulisan ini dapat mebangkitkan kembali semangat membaca, menulis dan melek internet di kalangan guru sehingga kita pun mampu mengikis habis konten-konten negatif di internet dengan membanjirinya melalui konten-konten positif para guru. Kulminasinya para siswa bisa dengan nyaman berinternet sehat dan aman.

Pada akhiryna kita akan dihadapkan pada dua pilihan. Menjadi guru rabun membaca dan lumpuh menulis atau melek baca, melek internet dan lari (melesat) dengan tulisan. Kita pilih tinggal landas dengan membaca dan menulis atau tinggal di landasan denga rabun membaca dan lumpuh menulis.

Advertisements

36 Comments

  1. ok, good work

    salam
    omjay

  2. inspiring… dengan menulis lebih banyak yg kita bagi, dg membaca lebih banyak yg kita serap, dg melek internet makin byk yg kita ketahui.. semoga menginspirasi semua guru untuk segera menulis..

  3. ms. anik says:

    what an inspired article!! Great Job, Pak Bayu…….

  4. ihya ulumudin says:

    wow…
    sangat menarik sekali…
    insya allah tulisan bang “ba2y” bisa jadi inspirasi buat kita semua..
    amien..

  5. islamic89 says:

    sip mantaps dah, lanjut

  6. godpro1234 says:

    bagus Pakkk……..

  7. kiki says:

    seru…….

  8. agusampurno says:

    Menulis adalah bagian dari cara guru menjadi profesional, saat seorang guru menulis dan mempunyai blog ia akan tampak lebih profesional dan ahli daripada guru yang lama mengajarnya sudah lebih lama dari dirinya.

    So keep writing Mas Bayu.

  9. selamat ya mas Bayu semoga makin termotivasi untuk menulis dan menulis lagi

  10. Said Rahman says:

    mantaff… juara pak.
    selamat ya

  11. Riyadul Zanah says:

    Selamat pak Bayu atas keberhasilannya. Baru kemarin bertemu pak Bayu, di ‘Teacher Writing Camp”. Tulisannya sangat menginspirasi saya untuk memulai menulis dan belajar membuat blog atau website. Semoga tetap ‘membumi’.

  12. ibnufajar75 says:

    Selamat dah jadi pemenanang….

    Salam kenal

  13. cemerlang12 says:

    congratulation…………………

  14. hera says:

    selamat ya pak atas terpilihnya tulisan bapak sebagai pemenang dalam lomba guru menulis pada 25 nov 2012 @UNJ

  15. Asadiyah says:

    Keren tulisannya, sangat memotivasi 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: